Posted by The Petromak on 27 Apr 2016
KISAH NABI HUD/HEBER (2450 – 2320 SM)
Nabi Hud
adalah cucu nabi Nuh. Nabi Hud diutus ke tengah -tengah kaumnya yang sangat
durhaka. Mereka adalah suku 'Ad yang berbadan besar dan kuat. Suku 'Ad
bertempat tinggal di sebelah utara Hadramaut, Yaman Selatan.
Mereka
dikaruniakan tanah yang sangat subur dan sumber-sumber air yang mengalir di
sepanjang kota sehingga memudahkan mereka untuk bercocok tanam. Berkat karunia
Allah tersebut, kota itu menjadi kota yang makmur dan dalam waktu singkat mereka
menjadi suku terbesar diantara suku-suku lain di sekitarnya.
Namun
demikian tidak membuat penduduknya taat akan Allah, Mereka membuat
patung-patung yang diberi nama " Shamud" dan " Alhattar" yang
disembah sebagai tuhan mereka yang menurut kepercayaan mereka dpt memberi
kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian
dan segala musibah.
Sebagai buah dari kesesatan mereka, pergaulan mereka
dikuasai oleh pengaruh tidak baik sang iblis. Dimana nilai-nilai moral dan akhlak
tidak menjadi norma hidup seseorang melainkan kekuatan lahiriah. Sifat sombong,
iri hati, hasut dan saling membenci serta didorong oleh hawa nafsu yang
merajalela telah menguasai kehidupan mereka.
Diingatkan
oleh nabi Hud bahwa apabila mereka tidak kembali kepada ajaran Allah maka
mereka akan ditimpa azab seperti air bah pada zamannya nabi Nuh. Tetapi
peringatan nabi Nuh tidak dihiraukan, bahkan dicemooh.
Maka
untuk menyadarkan mereka, Allah menurunkan pembalasan kepada mereka dengan
kekeringan yang melanda wilayah mereka sehingga menimbulkan kecemasan dan
kegelisahan.
Dalam
keadaan seperti itu nabi Hud masih berupaya meyakinkan mereka bahwa bencana
kekeringan ini hanyalah permulaan apabila mereka tetap membangkang dan menolak
ajaran Allah sang pencipta semesta alam. Dan meminta mereka untuk memohon ampun
kepada-Nya. Namun karena sudah terkuasai oleh iblis mereka tetap menolak ajakan
nabi Hud untuk menyembah Allah dan berkata bahwa bencana ini hanyalah sementara
dan tuhan mereka yang selama ini mereka sembah yaitu " Shamud" dan
" Alhattar" akan segera datang menolong mereka.
Tentangan
demi tentangan terhadap apa yang telah di wahyukan Allah kepada Hud membuat
Allah murka dan menurunkan bencana berikutnya yang di awali dari gumpalan awan
hitam menuju kearah kota mereka.
Melihat
hal itu kaum ‘Aad bersuka ria dan mengira akan segera turun hujan yang akan
menyirami ladang dan kebun mereka. Namun nabu Hud berseru kepada mereka, "Mega
hitam itu bukanlah mega hitam dan awam rahmat bagi kamu tetapi mega yang akan
membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah yang telah ku janjikan dan
kamu ternanti-nanti untuk membuktikan kebenaran kata-kataku yang selalu kamu
sangkal dan kamu dusta.
Gumpalan
awan hitam tersebut ternyata bukanlah awan yang membawa hujan melainkan angin
topa yang dahsyat disertai gemuruh yang memekakkan telinga dan merusak bangunan
mewah mereka serta melempar ternak-ternak mereka jauh ke langit.
Kaum
Aad berlari kesana kemari mencari perlidungan dari murka Allah yang berlangsung
selama delapan hari tujuh malam sehingga menyapu bersih kaum Aad yang congkak.
.
Setelah keadaan cuaca kembali tenang dan tanah " Al-Ahqaf " sudah
menjadi sunyi senyap dari kaum Aad pergilah Nabi Hud dan para pengikutnya yang telah dilindungi Allah dari bencana topan
tersebut. meninggalkan tempat itu dan berhijrah
ke Hadramaut, di mana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan
dimakamkan di sana dimana hingga sekarang makamnya yang terletak di atas sebuah
bukit di suatu tempat lebih kurang 50 km dari kota Siwun dikunjungi para
penziarah yang datang beramai-ramai dari sekitar daerah itu, terutamanya dan
bulan Sya’ban pada setiap tahun.