Posted by The Petromak on 11 Sep 2015
Seorang Saudagar kaya raya dari daratan
China sekarat dan sedang dalam sakratul maut, sadar akan waktunya yang hampir
tiba, ia segera meminta isterinya untuk mengumpulkan kedua
puteranya. Ketika dua
puteranya itu bersimpuh di samping saudagar itu maka ia segera angkat bicara
khawatir maut lebih dahulu datang menjemput.
Dalam wasiatnya yang terakhir saudagar tersebut membagikan seluruh hartanya
secara merata dan memberikan mereka warisan masing-masing sebuah toko untuk
mereka kelola dan kembangkan dan memberikan 2 syarat ilmu berdagang yang
menjadi rahasia kunci kesuksesan-nya selama ini.
Syarat pertama adalah bahwa mereka tidak boleh menagih piutang kepada
siapapun dan syarat yang ke-dua adalah dalam mengelola usahanya mereka tidak
boleh terkena sinar matahari secara langsung. dua syarat ini tentunya semakin
membingungkan kedua puteranya, tapi karena tidak memungkinkan untuk meminta
penjelasan maka kedua puteranya hanya bisa mengiyakan persyaratan dari ayah
mereka.
Akhirnya sang saudagar tua itu pun meninggal dengan tenang karena telah
menyampaikan wasiat penting untuk bekal masa depan anak-anaknya. Prosesi
pemakaman pun dilaksanakan dengan sakral dan hidup terus berlanjut.
Tahun demi tahun telah terlewati semenjak kematian dari ayah mereka,
sang Ibu memperhatikan perkembangan kedua puteranya yang terlihat sangat mencolok terutama dari segi ekonomi. Putera pertama-nya
sangat sukses dalam ekonomi sedangkan putera bungsu nya sangat berbeda, ekonomi
yang tidak menentu dan cenderung bangkrut membuat sang ibu penasaran dan
mencoba mengunjungi putera bungsunya.
Sang ibu merasa sangat iba melihat kondisi si bungsu dan menanyakan penyebab dari
semua ini, si bungsu mengatakan bahwa semua ini terjadi karena dia telah menuruti 2 syarat yang dipesan
oleh ayahnya sebelum meninggal bahwa dia TIDAK
BOLEH MENAGIH PIUTANG KEPADA SIAPAPUN, sedangkan para pelanggan tidak
berniat membayar apabila tidak ditagih sehingga membuat modal si bungsu kandas,
di tambah syarat TIDAK BOLEH
TERKENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG maka dia menyewa jasa pengangkutan
pribadi yang mahal sehingga dia tidak terkena sinar matahari secara langsung dan
membuat modalnya semakin menyusut.
Mendengar cerita si bungsu maka sang ibu menghiburnya dengan berkata,
"Engkau adalah anak yang berbakti, karena engkau menepati janjimu kepada
ayah."
Selanjutnya sang ibu pergi berkunjung kerumah putera pertamanya, disitu
kondisi sangat berbeda dengan rumah si bungsu, lalu sang ibu bertanya hal
yang sama kepada putera pertamanya. Putera pertamanya juga mengatakan bahwa dia
bisa meraih sukses berkat dua pesan terakhir dari ayahnya. Sang ibu bingung dan
karena rasa penasarannya ia bertanya tentang apa yang di pesan ayahnya sebelum
meninggal.
Putera sulungnya mengatakan bahwa ayahnya berpesan untuk TIDAK MENAGIH PIUTANG KEPADA
SIAPAPUN, maka dia tidak pernah memberikan hutang sehingga modal dagangnya
semakin meningkat. kemudian TIDAK
BOLEH TERKENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG maka
dia membuka toko pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit dan menutup tokonya
sesudah matahari terbenam, toko saya dikenal buka paling pagi dan tutup paling
malam sehingga toko saya banyak diserbu para pelanggan. Mendengar jawaban putera sulung-nya itu sang ibu manggut-manggut dan kagum
akan jawaban putera-nya itu.
Satu pernyataan yang sama mengandung banyak persepsi yang berbeda,
tergantung dari intepretasi masing-masing pribadi dalam mengartikannya, hasil yang
ditimbulkan pun akan berbeda pula. Tokoh putera sulung merupakan gambaran
kepribadian yang matang sehingga ia dapat mengartikan pesan ayahnya itu dengan
positif, sedangkan tokoh Si bungsu dari cerita diatas merupakan gambaran
pribadi yang hijau, menafsirkan perkataan ayahnya secara lugas tanpa bertanya
dulu kepada kakaknya sehingga dia mengalami nasib yang berbeda dengan saudara
sulungnya.