Seorang Raja yang kaya raya dari negeri yang subur dan makmur mempunyai hobi makan dan selalu menyantap hidangan istimewa dari para koki istana yang setiap harinya menyajikan menu berbeda dari resep para koki terkenal dari berbagai pelosok negeri.
Suatu ketika sang Raja merasa bosan dengan makanan yang disajikan oleh para koki istana, lalu memerintahkan mereka untuk membuat hidangan yang lain daripada biasanya dan lebih lezat. Para koki mulai mengadakan rapat dan segera menciptakan berbagai aneka masakan demi memuaskan selera makan rajanya.
Hidangan pertama dihidangkan, Menu ini belum pernah disajikan karena memang merupakan menu baru dalam istana, dengan mata berbinar-binar sang Raja memerintahkan para pelayannya mengantarkan hidangan itu di meja makan istana, tetapi dengan muka muram sang Raja merasa tidak ada istimewanya dengan hidangan yang baru dihidangkan sehingga sang raja akhirnya memutuskan membuat sayembara untuk membuatkan makanan terlezat dan bagi siapa yang mampu menyajikan yang menurut raja nantinya merupakan masakan terlezat akan diberikan hadiah salah satu wilayah di kerajaan tersebut.
Berita akan sayembara tersebut tersebar ke seluruh pelosok negeri sehingga berbondong-bondanglah para ahli masak dan koki di negeri itu ke istana untuk menyajikan masakan terlezat bagi sang Raja.
Perlombaan diadakan di alun-alun istana dan di saksikan oleh seluruh rakyat negeri itu. Para peserta lomba sedang mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari bbahan baku, alat-alat serta improvisasi resep-resep andalan yang mereka miliki.
Genderang ditabuh, para peserta berjalan menuju arena memasak dan mulailah mereka dengan resep andalan mereka masing-masing. Sang Raja terlihat penasaran dan berharap para koki dapat menyajikan masakan terlezat itu.
Dua jam berlalu akhirnya prajurit meniupkan terompet tanda para koki harus berhenti memasak dan mengantarkan hidangan yang mereka masak kepada sang Raja. Setelah mencicipi seluruh masakan yang dipersembahkan oleh para koki terkenal itu ternyata sang Raja belum merasakan istimewanya masakan-masakan itu. Karena seangtidak berselera maka sang Raja memerintahkan agar masakan-masakan itu dibagikan kepada seluruh rakyat yang sedang menonton acara itu.
Sang raja duduk lesu karena kekecewaannya terhadap koki-koki peserta sayembara itu, akhirnya dari kerumunan rakyat-rakyat yang menonton majulah seorang lelaki tua yang kurus kering dan kumal, dan menyatakan sanggup untuk mempersembahkan masakan terlezat bagi sang Raja.
Sontak Rakyat jelata dan para prajurit melongo mendengar apa yang di ucapkannya, "Hai orangtua, jangan bermimpi di siang bolong, bagaimana kamu dapat menyajikan masakan paling lezat sedangkan kamu sendiri belum pernah mencicipi masakan tersebut seumur hidupmu?" cemooh seorang prajurit.
Sang Raja yang mendengar itu, segera mempersilahkan orangtua itu untuk menemuinya di singgasana. "Wahai orangtua,... aku berterima kasih kamu ingin berpartisipasi dalam sayembara ini, tetapi apakah benar kamu mampu melakukannya? Jangan sampai aku tampak bodoh di depan rakyatku sendiri". Orangtua itu menjawab,"Daulat paduka, apabila hamba tidak berhasil melakukannya, maka hamba mempertaruhkan kepala hamba untuk dipenggal".
Mendengar jawaban itu sang Raja mulai ada sedikit pengharapan, tampaknya orangtua ini serius tentang apa yang dikatakannya. "baiklah orangtua, kamu boleh segera memulainya dan aku akan minta para pegawai istana untuk mempersiapkan bahan bakunya".
"Ampun tuanku paduka, kali ini hamba ingin memasak masakan yang istimewa bagi paduka, dan saya mohon satu syarat yang harus paduka lakukan". Wajah sang raja memerah mendengar perkataan orangtua itu, belum pernah ada yang berani mengajukan syarat kepada sang paduka. Tapi demi tercapainya maksud dari sang Raja maka Raja itu berkata, "Baiklah, apa syarat yang hharus aku lakukan?". Orangtua itu menjawab sambil membungkuk dalam-dalam, "Paduka harus mengikuti hamba ke suatu tempat, paduka boleh membawa hanya beberapa orang pengawal saja dan tak bersenjata serta paduka harus pergi bersama hamba dengan tanpa bekal apapun".
Dengan perasaan yang bingung dan penasaran maka Raja pun menyetujuinya, sang Raja memilih beberapa pengawal yang terkuat dari istananya dan segera melakukan perjalanan dengan si tua aneh itu.
Sang surya mulai kelelahan menyinari bumi saat itu, sinarnya sudah mulai redup dan lama kelamaan menghilang sehingga berganti dengan malam yang gelap dan dingin. Sang Raja kelihatannya juga sudah sangat kelelahan karena mereka tidak menggunakan tandu ataupun kereta kuda dalam perjalanan itu.
"Wahai orangtua, masih jauhkah tempat itu? aku sudah mulai kelelahan dan kaki-ku sakit terantuk batu-batuan dijalanan. Aku juga sudah mulai lapar dan kedinginan, ini salahmu karena engkau mengajukan syarat yang tidak boleh membawa peralatan, makanan dan kereta kuda". Orangtua itu menjawab sopan ,"Ampun paduka, jaraknya tidak berapa jauh lagi, kalau kita terus berjalan maka keesokkan paginya kita akan tiba di tujuan".
Akhirnya setelah berjalan sehari semalam mereka berhenti di sebuah rumah gubuk, si Orangtua meminta rombongan menunggu sebentar di luar sedangkan dia masuk kedalam gubuk, kira-kira sepeminuman teh orangtua itu keluar sambil mempersilahkan rombongan masuk kedalam gubuk itu.
"Tempat apa ini wahai orangtua?". Tanya sang Raja. Si orangtua hanya tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk duduk di bangku yang terbuat dari bambu hutan. Tidak lama tampak seorang wanita tua keluar membawa nampan yang berisi singkong rebus. Tanpa pikir panjang sang Raja langsung mengambil singkong rebus itu lalu memakannya dengan lahap.
Perbuatan itu disusul oleh para pengawal-pengawal kerajaan yang juga kelaparan. si orangtua tersenyum dan bertanya kepada sang Raja,"Bagaimana yang paduka, apakah makanan ini lezat?" ya orangtua, makanan ini sangat lezat, aku hanya mendengar namanya tetapi aku belum pernah memakannya sejak aku lahir, ternyata apa yang dinamakan singkong ini memang sangatlah lezat".
Setelah kenyang, sang raja berkata kepada si orangtua, "Wahai orangtua aku telah menemukan makanan yang lezat ini, apakah makanan ini hanya dapat diperoleh disini?".
"Tidak paduka, makanan ini dapat diperoleh di sekitaran alun-alun dan pasar di kotapraja, hamba seorang petani singkong dan setiap 3 kali sehari saya membawanya ke kotapraja untuk dijual". "Lalu mengapa engkau mengajakku melakukan perjalanan jauh yang melelahkan ini?" tanya sang raja heran.
"Letak nikmatnya makanan itu adalah dari kondisi seseorang ketika memakannya, bukan dari mahal atau mewahnya hidangan itu. Apabila hamba memberitahukan paduka tentang hal ini di istana, tentu paduka akan memerintahkan seseorang untuk membelinya di pasar, dan dalam keadaan paduka saat itu, paduka tidak akan merasakan nikmatnya singkong rebus itu. Singkong rebus itu terasa nikmat karena Paduka memakannya dalam keadaan lapar."
Sang Raja terdiam, dan lalu berkata,"Anda benar... anda benar..., anda sungguh bijaksana".