Posted by The Petromak on 8 Des 2013
seorang bayi bernama Kahlil Gibran lahir pada 6 Desember 1883
dalam keluarga miskin di Bssheri, sebuah kota kecil di Lebanon Utara. Untuk
meningkatkan taraf hidupnya maka mereka memutuskan untuk pindah ke Boston
Amerika. Di Boston Kelebihan yang
dimiliki oleh Kahlil Gibran dalam sastra mulai terlihat.
Tahun
1901 Gibran kembali ke Lebanon dan bersekolah untuk mempelajari sastra Arab di
Beirut. Setelah lulus ia mengembara ke Yunani, Italia, Spanyol dan akhirnya
menetap di Paris untuk memperdalam seni, tetapi Gibran terpaksa kembali ke Boston karena mendapat kabar ibunya sakit dan
akhirnya meninggal tahun 1903 menyusul kepergian adiknya Sultana dan kakaknya
Boutros. Kematian orang-orang terdekat yang sangat disayangi ini sangat
membekas dalam jiwa Gibran yang disalurkan melalui karya-karya hebatnya.
Sehingga dia mendirikan sebuah studio”pertapaan”di New York.
Gibran
hidup dalam budaya barat dan timur sehingga dia menjadi manusia yang bebas dan
tidak terikat pada kebudayaan tertentu. Ia hanya terikat pada perjuangan hak
dan martabat manusia tanpa memandang batas bangsa dan budaya. Gibran juga terlibat
dalam reformasi sosial yang berdampak nyata pada negerinya Lebanon.
Ia
banyak melancarkan kritik sosial yang sangat tajam melalui karya tulisnya.
Dalam tulisannya Kahlil Gibran menganggap kaum gereja penuh ketidakadilan dan
kemunafikan, Gereja dibangun dengan megah, sementara penganutnya hidup dalam
kemiskinan dan penderitaan. Pendeta hidup dalam kemewahan dan makan roti dan
anggur segar sementara penganutnya belum tentu dapat makan. Ia mengkritik kaum
biarawan dengan kata-kata pedas: “Sang Mesias mengutus kalian sebagai domba di
tengah serigala; lantas apa yang menjadikan kalian ibarat serigala di tengah
domba-domba?”. Sehingga tulisannya itu membuat karya Gibran Spirits Rebellious
di bakar di muka umum oleh kalangan gereja dan Gibran mendapat hukuman
ekskomunikasi dari pimpinan gereja di Beirut, karena dianggap mengancam eksistensi
para biarawan dan gereja disana.
Kehidupan asmara Gibran sangatlah melankolis. Ia menjalin cinta dengan 2 orang
wanita. Mary Haskel seorang wanita
Amerika yang umurnya 10 tahun lebih tua dari Gibran tetapi banyak mewarnai
karya-karya Gibran selama ini. May
Zaidah adalah wanita Arab kelahiran Nazareth. Gibran menjalin kisah cinta
yang tak biasa dengan wanita ini, mereka menjalin cinta hanya melalui
surat-surat, mereka tidak pernah saling bertemu atau bahkan melihat wajah 1
sama lain dari selembar foto pun sampai
maut merenggut Gibran di Boston Amerika Serikat 10 April 1931, karena radang
paru-paru dan penyakit lever.
Beberapa
karya populernya antara lain: Sang Pralambang (1920), Sang Nabi (1923), Pasir
dan Buih (1926), Taman Sang Nabi (1933), Jiwa-Jiwa Pemberontak (1948), Suara
Sang Guru (1958), Potret Diri (1959) dan Sayap-sayap patah.