Posted by The Petromak on 17 Nov 2013
Alkisah jaman dulu hidup seorang lelaki tua yang tinggal sendiri di puncak gunung. Lelaki tua itu adalah seorang sannyasi (Orang
yang menyerahkan seluruh harta duniawinya dan mempersembahkan hidupnya
untuk spiritualisme). Setiap pagi saat bangun lelaki tua itu
menghadapkan tubuhnya ke arah timur. Sambil menyaksikan terbitnya sang
surya lelaki tua itu memanjatkan doa-doanya, hidup yang begitu tenang,
sederhana dan jauh dari kehidupan yang berbau duniawi.
Sementara
itu, di desa yang terletak di kaki gunung beredar gosip tentang dirinya
yang mengatakan bahwa orangtua itu bukanlah orang yang saleh. Tetapi
dia adalah orang yang kaya raya yang pindah dan menetap di puncak gunung
untuk menyembunyikan harta-harta nya dari tangan-tangan jahat yang
berusaha mencuri hartanya.
Diantara
warga ada seorang petani miskin, suatu malam ia bermimpi dalam
tidurnya,ia melihat sebongkah batu ruby yang sangat besar dan memukau,
warnanya begitu terang bak cakrawala saat matahari terbit. dan dalam
mimpi itu diketahui pemiliknya adalah sang sannyasi.
Saat
bangun si petani itu berniat untuk memiliki batu permata tersebut.
Mungkin jika memintanya dengan baik-baik maka si lelaki tua itu dapat
memberikannya. Pagi-pagi sekali sebelum warga desa bangun si petani
melakukan pendakian yang panjang ke puncak gunung.
Sementara
itu si lelaki tua sedang melakukan ritualnya seperti biasa, namun kali
ini dia mendengarkan langkah kaki di belakangnya. Ketika si lelaki tua
itu berbalik, ia melihat seorang petani yang berpakaian lusuh. Sambil
membungkukkan badan lelaki tua itu menyapa si petani dengan ramah.
"Selamat pagi kisanak, apakah anda ingin ikut berdoa dengan ku?". Petani
itu gugup tetapi dia tidak sedang ingin berdoa. ia tidak bisa menepis
bayangan batu Ruby dalam mimpinya semalam sehingga tanpa pikirpanjang si
petani berkata,"Tidak, wahai lelaki tua. Aku datang kemari untuk
mendapatkan batu Ruby. Aku melihatnya dari mimpiku.Apakah engkau
memiliki permata tersebut yang akan kau berikan kepadaku?". Lelaki tua
itu tidak menyahut. Ia hanya menjulurkan tangan ke arah gundukan rumput
tinggi dan mengambil sebutir Ruby yang besar, sebesar kepala lelaki
dewasa dan memberikannya kepada si petani itu. "Ini, ambillah disertai
berkat dariku."
Si
petani terkesima melihat permata yang begitu indahnya, persis seperti
di dalam mimpinya. Dengan mulut menganga petani menggenggam Ruby itu
dengan kedua tangannya. "Engkau adalah terlalu baik!!..." ucap petani
itu dengan suara gemetar. si lelaki tua anya tersenyum kecil mendengar
ucapan petani itu. Sambil menyembunyikan batu yang didapatnya itu
dibalik baju lusuhnya yang compang camping, petani itu bergegas berlari
menuruni gunung dan setibanya di desa, si petani langsung masuk ke gubuk
nya dan meletakkan permata itu di atas meja kayunya yang kecil sambil
memandang kagum ke arah permata itu, memutar-mutar batu itu,
mengelus-elusnya serta mencium permukaaannya yang dingin.
"Aku
adalah pria paling beruntung didunia" ucapnya. Dan sepanjang hari si
petani hanya termangu disana menatap batu yang indah tersebut dan
berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya karena hidupnya kini telah
berubah. Si petani berniat untuk menjual batu tersebut dengan harga yang
sangat tinggi di kota esok hari, tetapi rasanya tidak akan ada yang
sanggup membelinya dengan harga yang layak mengingat ukuran batu itu
sangat besar. Lalu petani itu berubah pikiran dengan niat membawa batu
itu ke tukang batu permata dan memotong batu tersebut menjadi beberapa
bagian kecil, tetapi bagaimana kalu tukang batu membocorkan rahasia ini
dan membeberkan masalah ini kepada orang-orang? bisa-bisa perampok
mendatangi gubuk si petani dan berusaha merebutnya dan petani itu tidak
akan bisa lagi hidup tenang.
Sepanjang
malam si petani hanya duduk termangu memandang permata itu. Lama
kelamaan si petani itu memikirkan si lelaki tua diatas gunung, terutama
betapa mudahnya si lelaki tua menyerahkan permata itu kepada si petani.
Ia memikirkan kehidupan sederhana dari si lelaki tua, jubahnya,
pengabdiannya dan senyumnya yang tulus.
Maka
sekali lagi sebelum sang fajar tiba, si petani itu kembali menaiki
gunung bersama batu Ruby ditangannya. Sesampainya si petani di puncak
gunung, si lelaki tua itu menyapa ramah. Si petani menyerahkan Ruby
tersebut kepada lelaki tua."Aku tidak mau menyimpan batu ini, tetapi aku
punya satu permintaan, aku ingin engkau menjadi guruku dan ingin
belajar bagaimana kau menyerahkan permata itu kepadaku dengan begitu
mudahnya".
Si lelaki tua tersenyum dan berkata, "Anakku... sesungguhnya engkau sudah mulai belajar".