KISAH NABI SHALEH/SHELAH
(2150-2080 SM)
Nabi
Shaleh adalah salah seorang nabi yang diutus kepada kaum Tsamud. Tsamud adalah
suku yang merupakan bagian kecil dari bangsa Arab. Kaum ini tinggal diantara
Hijaz dan Syam yang bernama dataran Hijr yang dulu merupakan daerah kekuasaan
Kaum Aad yang telah binasa dilanda angin topan pada zaman nabi Hud/Heber.
Kemakmuran
dan kemewahan hidup serta kekayaan alam kaum Aad diwarisi oleh kaum Tsamud,
semua menjadikan mereka hidup tenteram, sejahtera dan bahagia dan merasa bahwa
kemewahan hidup mereka akan abadi bagi mereka dan keturunannya. Kaum ini tidak
mengenal Tuhan. Tuhan mereka adalah berhala-berhala yang mereka puja dan
sembah, tempat mereka meminta perlindungan dari segala bala dan musibah.
Tetapi
Allah tidak tega melihat hamba-hambanya terus menerus berada dalam kegelapan,
maka di utuslah nabi Shaleh, seorang terpilih dari suku mereka sendiri untuk
memperkenalkan suku Tsamud dengan Tuhan, Allah pencipta alam semesta di sekitar
mereka.
Mendengar
seruan dan ajakan nabi Shaleh yang bagi mereka adalah merupakan hal yang baru,
maka terkejutlah kaum Tsamud dan serta merta menolak ajaran nya. Ajaran nabi
Shaleh mereka anggap sebagai omong kosong belaka dan tidak layak untuk
dipercaya.
Nabi
Shaleh memperingatkan kaumnya agar tidak menentang ajarannya jika tidak ingin
binasa, namun hanya sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang memiiki status
sosial lemah mau menerima dakwah nabi Shaleh sedangkan sebagian besar
orang-orang yang memiliki status sosial lebih tinggi tetap menolak ajaran nabi
Shaleh, bahkan mengolok-oloknya sebagai orang yang sudah hilang akal sehatnya
dan dipengaruhi setan untuk mempengaruhi kaum nya.
Melihat
nabi Shaleh lebih giat menarik orang-orang kaum Tsamud untuk mengikuti ajaran
nya, maka pemimpin dan pemuka-pemuka kaum Tsamud berupaya membendung arus
dakwah nabi Shaleh dengan memberikan tantangan kepada nabi Shaleh untuk
membuktikan kebenaran ke-nabi-an nyadengan suatu bukti kejadian luar biasa yang
berada di luar kuasa manusia pada umumnya.
Sesuai
dengan permintaan kaumnya, maka nabi Shaleh berdoa kepada Allah dan memohon
agar diberikan suatu mukjizat demi membuktikan kebenaran ajaran nya dan
mematahkan tentangan dari kaum nya yang semakin keras dan meminta Allah dengan
kuasa-Nya menciptakan seekor unta betina yang dikeluarkan dari perut sebuah
batu karang besar yang terdapat di sisi sebuah bukit yang di tunjuk oleh pemuka-pemuka
kaum Tsamud.
Maka
sesaat kemudia setelah nabi Shaleh selesai berdoa, dengan izin Allah maha
pencipta, terbelahlah batu karang yang mereka tunjuk itu dan dari tengahnya
keluarlah seekor unta betina sesuai persyaratan yang diajukan pemuka-pemuka
kaum Tsamud, dan nabi Shaleh mengancam bahwa apabila terjadi sesuatu pada unta
tersebut maka Allah akan menurunkan azab yang dahsyat pada kaum Tsamud, maka
kaum Tsamud harus membiarkan unta itu dalam keadaan baik-baik saja.
Dengan
berhasilnya Nabi Saleh mendatangkan mukjizat yang mereka tuntut gagallah para
pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan
menghilangkan pengaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal
kepercayaan para pengikutnya dan menghilangkan banyak keraguan dari kaumnya.
Maka dihasutlah oleh mereka pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan
tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang dan
kebun-kebun mereka serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya. Maka
sebuah rencana pembunuhan terhdap unta nabi Shaleh pun dipersiapkan.
Diantara
dorongan dan keinginan yang kuat daripada kaum Tsamud untuk melenyapkan unta
tersebut, seorang janda kaya raya mengadakan sayembara yang menyatakan akan
menyerahkan dirinya dan salah satu puteri-puterinya yang cantik jelita kepada
sesiapa yang berhasil membunuh unta nabi Shaleh itu.
Dua
tawaran yang sangat menggiurkan pada zaman itu mengundang dua orang lelaki yang
bernama Mushadda’ bin Muarrij dan Gudar bin Salif besiap-siap untuk melakukan
pembunuhan terhadap unta itu.
Dengan
bantuan 7 orang lelaki maka mereka bersembunyi dan menunggu dimana unta itu
sering lewat untuk minum, begitu unta itu lewat maka di panahlah dan ditikamnya
unta tersebut dengan bengis. Setelah iu dengan perasaan bangga pergilah para
pembunuh itu ke ibukota dan mengumumkan berita kematian unta nabi Shaleh.
Mendengar hal itu, nabi Shaleh memberikan
mereka waktu 3 hari untuk menyadari kesalahan mereka dan bertobat untuk meminta
ampun sebelum azab Allah yang dijanjikan menimpa mereka. Nabi Saleh
memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mereka akan
didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka terbangun
dari tidur, wajah mereka menjadi kuning dan akan berubah menjadi merah pada
hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah
yang pedih.
Namun
kenyataan nya para pembunuh tersebut tidak menghiraukan apa yang diperingatkan
oleh nabi Shaleh bahkan mereka terlarut dalam hadiah sayembara yang telah
mereka terima yaitu janda kaya dan puteri-puteri nya. Dan kembali mengolok-olok
nabi Shaleh untuk mempercepat azab yang diancamkan nabi Shaleh.
Mereka
malah kembali merencanakan sebuah pembunuhan terhadap nabi Shaleh sebelum azab
itu tiba, maka datanglah para pembunuh itu di malam hari ketika nabi Shaleh
sedang tertidur, ketika mereka mendekati perkemahan nabi Shaleh maka jatuhlah
batu-batu besar yang berasal dari langit menimpa kepala para pembunuh itu dan
seketika merebahkan mereka ditanah dalam keadaan tidak bernyawa. Demikianlah
Allah telah melindungi pengikutnya dari perbuatan jahat.
Dan
Allah berfirman kepada nabi Shaleh agar membawa pengikut-pengikutnya
meninggalkan Hijr, karena keesokkan harinya kaum Tsamud dan para penghuninya
akan menerima azab yang telah dijanjikan.
Setelah
nabi Shaleh meninggalkan Hijr maka datanglah petir yang menyambar disertai
angin dan gempa bumi yang dahsyat menimpa kaum Tsamud dan tidak ada seorang pun
yang dapat terselamatkan dalam kejadian itu.