Posted by The Petromak on 9 Sep 2015
Mungkin banyak diantara kita yang sudah pernah mendengar atau membaca
kisah nyata yang ditulis sendiri oleh tokoh dalam kisah ini, tetapi tidak ada
salahnya apabila cerita yang dapatkan dari berbagai sumber ini saya tulis
kembali dalam artikel ini, karena saya berfikir mungkin ada beberapa dari kita
yang belum pernah membacanya. Cerita ini diperuntukkan bagi pasangan suami istri,
bagi para calon suami dan bagi semua orang, sehingga dapat terinspirasi dari kisah
cerita ini dan tidak menyia-nyiakan pernikahannya.
Malam itu ketika aku pulang dari kantor,
istriku mempersiapkan hidangan makan malam untukku. Aku duduk di meja makan
tanpa melihat hidangan yang ada di meja. Sambil memegang tangan isteriku, aku
berkata, "Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu." lalu ia duduk di
sampingku. Aku tidak tahu bagaimana harus memulai percakapan ini. Aku
ingin menceraikan isteriku, karena itu aku kuatkan diriku untuk mengutarakan
keinginanku tersebut. Setelah mendengarnya, dia tampak tidak terganggu sama sekali
dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku dengan tenang,
"Mengapa?" Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah
kepadaku. Malam itu kami membisu
dan tidak saling bertegur sapa. Dan dia terus menangis sepanjang malam.
Dengan sebuah perasaan bersalah, dan berfikiran
bahwa tangisannya itu adalah ke khawatiran akan kehidupannya setelah bercerai
dariku. Akhirnya aku menulis sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan
bahwa isteriku dapat memiliki rumah yang kami
tempati saat ini, beberapa mobil,
dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Ternyata dia sungguh kecewa dengan
pernyataanku itu sehingga merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10
tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku. Aku
minta maaf kepadanya karena dia telah menyia-nyiakan waktunya 10 tahun
bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang dicurahkan kepadaku, tapi aku
tidak mungkin menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Janet,
wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi, tapi
bagiku tangisannya kini tidak berarti apa apa lagi, karena keputusan yang
aku buat sudah bulat.
Malam berikutnya aku pulang sangat larut. Karena
ngantuk dan capek maka aku tidak makan malam dan langsung pergi tidur. Di kamar
aku melihat dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Tengah
malam secara tidak sengaja aku terbangun dan melihat istriku masih duduk
disamping meja itu melanjutkan menulis, Tetapi aku tidak mengacuhkannya dan
kembali meneruskan mimpiku.
Keesokan
paginya, istriku menyerahkan syarat-syarat perceraian yang ternyata telah
ditulisnya sejak semalam kepadaku. Di surat itu dia mengatakan bahwa dia tidak
menginginkan apapun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum
perceraian. Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk
hidup normal layaknya suami istri dengan alasan yang sangat sederhana. Anak kami akan menghadapi ujian dalam
bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggu konsentrasi belajarnya dengan
rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus
menggendongnya sambil mengenang kembali saat-saat bahagia pernikahan kami. Dia
memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di
depan pintu setiap pagi sebelum pergi bekerja.
Aku berfikir istriku telah depresi dan menjadi gila
akan rencana perceraian ini. Tetapi biarlah aku mencoba untuk membuat hari-hari
terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, dan menikah dengan
perempuan pujaan hatiku, Janet. Aku menceritakan hal ini kepada Janet. Janet tertawa
dan akhirnya membiarkanku untuk melakukan hal-hal terakhir dalam pernikahan
kami yang menurutnya sangatlah konyol.
Saat hari pertama menggendong istriku ada perasaan
canggung dan kaku, karena belakangan ini kami memang nyaris tidak pernah
bermesraan, apalagi melakukan hubungan suami istri. Saat anak kami melihatnya,
ia pun bertepuk tangan dan berteriak. "ciee ciee..., papa menggendong
mama, mesra sekali deh..." Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata,
"Jangan sampai anak kita tahu tentang perceraian ini." Aku
menurunkannya di depan pintu, lalu aku berangkat ke kantor.
Dihari kedua, kami melakukannya dengan lebih mudah,
dia merangkul manja di dadaku sehingga aku dapat mencium dan merasakan
keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini
dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda
seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, beberapa helai rambutnya pun sudah
mulai terlihat memutih. tetapi entah kenapa, hal inu mengingatkanku saat awal pernikahan
kami yang bahagia sampai saat Janet datang dalam kehidupanku.
Pada hari keempat, saat aku menggendongnya aku
mulai merasakan kedekatan seperti dulu lagi. Inilah wanita yang telah memberi
dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh,
aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh
kembali.
Suatu hari, diam-diam aku lihat dia sedang memilih
pakaian yang hendak dia kenakan, dia mencoba beberapa pakaian tetapi tidak
menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Aku mulai menyadari bahwa istriku
telah menyimpan luka yang mendalam dan kepahitan dalam hidupnya sehingga dia
menjadi kurus dan aku sangatlah mudah untuk menggendongnya. Tanpa disadari aku
menjulurkan tanganku ke atas kepalanya serta membelai rambutnya.
Saat aku larut dalam kesedihan melihat kondisi
istriku, terdengar suara "Papa, sekarang saatnya untuk menggendong
mama." Bagi putraku, melihatku menggendong mamanya menjadi peristiwa yang
penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya
penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku jauh-jauh dari peristiwa yang bisa
mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk menceraikan istriku.
Aku menggendongnya berjalan dari kamar tidur kami,
melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku
dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun
memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.
Bedanya tubuhnya yang kini ringan membuatku sedih.
Pada hari terakhir aku menggendongnya. Aku memeluk
erat tubuhnya sambil berkata, "Aku tidak pernah memperhatikan selama ini
hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain, aku
telah terlarut dalam kesibukanku."
Seperti biasa, aku berangkat ke kantorku dengan
mengendarai mobil ku dan mampir ke tempat Janet. Melompat keluar tanpa mengunci
pintunya dan lari ke lantai atas rumah Janet, saat dia membukakan pintu aku
langsung bilang bahwa aku tidak ingin menceraikan istriku.
Janet memandangku penuh tanda tanya, "Maaf
Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia
dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak
saling mencintai. Sekarang aku sadar semenjak aku menggendongnya sebagai
syaratnya itu, aku akan terus menggendongnya sampai hari kematian kami."
Janet sangat kaget dan marah mendengar jawabanku,
dia menamparku dan membanting pintu dengan keras. Tetapi aku tidak
menghiraukannya, aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi dari
tempatnya dan mampir di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan
bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di
kartunya. Aku tersenyum dan menulis, "Aku akan menggendongmu setiap pagi
sampai kematian menjemput."
Aku pulang lebih awal, sebuah senyum menghias
wajahku, aku berlari kearah kamar kami. aku ingin menyerahkan bunga yang tadi
aku beli dan merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan
kami. Tapi betapa terperanjatnya aku begitu aku mendapatkan istriku telah
meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun
pernikahan kami.
Setelah melihat hasil medis yang dia sembunyikan
dibalik baju-bajunya di lemari, aku baru tahu bahwa selama ini ia berjuang
melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa
sepengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Janet.
Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat.
Walaupun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin
akan timbul dari anak kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi
kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah
berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi
anak kami.
Hal
yang sangat kusesali bahwa aku tidak sempat mengatakan bahwa aku tidak akan
pernah menyakiti hatinya lagi dan tidak akan menceraikannya karena aku sadar bahwa
dia adalah orang yang paling berarti dalam hidupku dan hidup anakku. Tulisan
pada kartu telah digenapi. “Aku akan menggendongmu sampai ajal menjemput”.
Harga
sebuah pernikahan tidak dapat diukur dari harta, rumah, mobil, dan hubungan
intim. Sebegitu berharganya sebuah pernikahan membuatnya hanya bisa dikatakan
berharga saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Sekecil apapun peristiwa itu akan sangat mempengaruhi hubungan
pernikahan kita.